Kebakaran Bromo Meluas hingga 520 Hektare, Emil Dardak Ungkap Kendala Pemadaman
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak turun langsung meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Probolinggo, Minggu.
Emil mengatakan penanganan kebakaran di kawasan Bromo membutuhkan koordinasi dan keterlibatan berbagai pihak. Kondisi medan yang terjal serta sulit dijangkau menjadi salah satu tantangan utama bagi petugas di lapangan.
“Kami koordinasikan bersama karena penanganannya membutuhkan kerja sama semua pihak,” ujar Emil setelah meninjau langsung kondisi kawasan terdampak.
Dalam kunjungan tersebut, Emil mengikuti koordinasi penanganan kebakaran bersama unsur pemerintah, TNI, BPBD, pengelola TNBTS, serta relawan.
Koordinasi turut dihadiri Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) Rudjanta Tjahja Nugraha, Dandim 0820 Probolinggo Letkol Inf Ribut Yudho Apriantono, Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief, serta sejumlah relawan.
Titik Api Masih Ditemukan
Berdasarkan pemantauan sementara, sejumlah titik api masih ditemukan mulai dari kawasan P30, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, hingga area Penanjakan 1.
Petugas gabungan terus melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada bara api yang tersisa dan berpotensi kembali memicu kebakaran.
Sebelum melakukan pemadaman, tim gabungan menyusun strategi dengan mempertimbangkan arah angin, kondisi vegetasi, serta tingkat kesulitan medan. Pemadaman dilakukan dengan menggabungkan operasi darat dan udara.
“Pemadaman kami lakukan dengan melihat kondisi dan medan di lapangan. Ada pemadaman darat dan juga kami dukung dengan pemadaman dari udara,” kata Emil.
Untuk operasi udara, tiga helikopter pengebom air dikerahkan untuk menyiram titik-titik api yang sulit dijangkau petugas dari darat.
Sementara itu, dari jalur darat dikerahkan tujuh mobil pemadam kebakaran dan tiga drone water spray untuk membantu memadamkan api di sejumlah lokasi.
Ratusan personel gabungan juga diterjunkan untuk melakukan pemadaman manual, membuka akses, serta menyisir area yang masih memiliki bara. Mereka berasal dari unsur TNI, BPBD, BB-TNBTS, dan relawan.
Angin hingga Medan Terjal Jadi Kendala
Emil mengatakan proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya adalah kondisi angin yang berubah-ubah sehingga berpotensi membuat api kembali menyebar ke area lain.
“Meski demikian, proses pemadaman tidak berjalan mudah. Angin yang berubah-ubah menjadi salah satu kendala utama karena dapat menyebabkan api kembali menyebar ke kawasan lain,” ujarnya.
Selain faktor cuaca, petugas juga menghadapi keterbatasan peralatan manual. Sejumlah alat gepyok yang digunakan untuk memadamkan api di beberapa titik bahkan telah habis digunakan.
Medan kawasan Bromo yang terjal dan didominasi perbukitan juga menyulitkan akses menuju lokasi kebakaran. Tidak semua titik dapat dijangkau menggunakan kendaraan sehingga petugas harus berjalan kaki menuju lokasi.
Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama. Karena itu, strategi pemadaman darat dan udara terus dikombinasikan untuk menjangkau titik-titik yang sulit diakses.
Kebakaran Capai 520 Hektare
Berdasarkan data sementara hingga Minggu, luas kawasan yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 520 hektare.
Vegetasi yang terbakar meliputi hamparan rumput khas pegunungan serta sejumlah jenis tanaman yang tumbuh di kawasan konservasi, termasuk bunga edelweiss.
Meski luas area terdampak cukup signifikan, api dilaporkan belum mencapai kawasan Lembah Watangan maupun Bukit Teletubbies yang menjadi salah satu destinasi wisata populer di Bromo.
Saat ini, petugas tidak hanya berfokus memadamkan api yang masih terlihat. Penyisiran juga terus dilakukan untuk menemukan dan mematikan bara yang tersisa agar tidak kembali menimbulkan titik kebakaran baru.
